Archive Page 2

Perubahan yang pertama terjadi mungkin ip address yang sudah beralih ke ipv6. Hal ini sudah marak sekarang, ketika jumlah computer di dunia semakin banyak dan ipv4 tidak lagi mampu menyediakan jumlah ip address yang memadai, cukup logis untuk mengatakan bahwa 10 tahun yang akan datang ipv6 sudah menjadi standar umum. Di ITB tampaknya transformasi ini sudah dilakukan. Tentang ipv6 : 

IPv6 (Internet Protocol version 6) merupakan IP generasi berikutnya atau disebut juga Internet Protocol Next Generation (IPng). IPv6 didesain untuk menggantikan IPv4 (Internet Protocol version 4) yang kita pergunakan sekarang ini. Panjang alamat IPv4 adalah 32 bit, sedangkan panjang IPv6 128 bit. Pada Ipv4, alamat yang didapatkan sejumlah 232 atau sekitar 4,294 x 109. Dengan menggunakan Ipv6, alamat yang kita dapatkan sejumlah 2128 atau sekitar 3,402 x 1038. Jika dibandingkan panjangnya, IPv4 sepanjang 1 inchi, sedangkan IPv6 sepanjang diameter galaksi kita. Walaupun demikian, IPv6 tetap dapat berkomunikasi dengan Ipv4. Apabila timbul pertanyaan mengapa harus beralih ke IPv6? Jawaban yang paling sederhana adalah karena alokasi alamat Ipv4 semakin berkurang dan bahkan sebentar lagi alamat IPv4 akan habis. Sumber: ilmukomputer.com


Bagaimana suatu situs bisa sampai ke browser kita? Film Warriors of The Net yang ditonton sabtu kemarin sepertinya bisa memberikan jawaban. Kira-kira prosesnya seperti ini :

  • Saat kita mengetik address situs yang akan dituju, maka paket data diisi dengan info yg kita inginkan (misal dari www.google.com). Ukuran paket bisa bermacam-macam, tergantung dari info yang dikandungnya. Proses ini disebut sending request.
  • Kemudian paket diberi alamat sender dan receiver, selain itu juga diberi alamat proxy agar bisa sampai tujuan. Continue reading ‘Warriors of The Net’

Proses yang terjadi pada OSI Layer saat kita mengakses Google bisa dianalogikan seperti gambar berikut :

Pertama-tama kita mengetikkan www.google.com pada application, misalnya Opera. Selanjutnya browser melakukan sending request ke server Google. Ketika data ditransfer melalui jaringan, sebelumnya data tersebut harus melewati ke-enam layer lain, yaitu mulai dari layer Presentation sampai physical layer, kemudian di sisi penerima, data tersebut melewati layer physical sampai kembali ke layer aplikasi (data yang dirikues ditampilkan oleh browser). Pada saat data melewati satu layer dari sisi pengirim, maka akan ditambahkan satu “header” sedangkan pada sisi penerima “header” dicopot sesuai dengan layernya.

Continue reading ‘Simulasi OSI Layer Ketika Mengakses Google!’


Minggu kemarin para cakru ARC dapat tugas dokumentasi instalasi FreeBSD. Berbekal nekat dan tanpa handbook ditangan saya coba install FreeBSD di vmware. Berikut adalah kronologisnya di layar komputer saya:

Pertama dan utama sekali, saya siapkan dulu virtual machinenya supaya aman kalau nanti gagal atau ada apa-apa. Memorynya saya set 128mb (defaultnya 256mb utk freebsd) karena memory sistem cuma 1gb, pas2an kalau pakai Windows Vista. Hhe….



Supaya cepat, saya menginstall dengan memakai image cd. Pas booting pertama kali, muncul gambar ini

pilihan saya adalah default. Setelah pengenalan hardware, muncul jendela untuk memilih layout keyboard

Setelah menekan enter, muncul sysinstall, aplikasi untuk menginstall FreeBSD berbasis konsol. Menu dan warna jendelanya mirip dengan menu instalasi Slackware, not userfriendly.

Karena tidak tahu apa-apa tentang FreeBSD, saya pilih Standard. FreeBSD lalu menyuruh saya untuk mengalokasikan hardisk.

Dengan menekan A, FreeBSD sudah mengalokasikan hardisk secara otomatis. Setalah itu, muncul jendela instalasi bootmanager.

Saya Ok kan saja. Toh hardisknya masih kosong, MBR-nya belum ada. Setelah Ok, saya diminta untuk membuat partisi BSD dari partisi yang telah dibuat sebelumnya.

Dengan menekan A sekali lagi, FreeBSD secara otomatis mempartisi hardisk yang telah dialokasikan tadi. Lalu muncul jendela Choose Distributions. Saya lupa apa2 saja yang saya pilih, skrinsyutnya lupa saya ambil. Tapi kalau tidak salah, banyak pilihan2 yang saya beri tanda X. Setelah itu pada jendela Choose Installation Media, saya pilih CD/DVD. FreeBSD memulai instalasinya

Instalasi berjalan tidak lama, kurang lebih 18 menit. Ini merupakan pengalaman instalasi OS tercepat yang pernah saya alami. Sysinstall mengucapkan selamat kepada saya karena telah berhasil menginstall FreeBSD (Ya, sama-sama Mas…. Hhe..).

Menu selanjutnya adalah konfigurasi awal FreeBSD. Banyak skrinsyut yang tidak saya tampilkan karena kebanyakan hanya berupa pertanyaan dua baris (memakan bandwidth saja). Untuk pertanyaan mengenai IPv6 dan DHCP saya jawab no karena saya memang belum mengenal kedua makhluk itu (makanya mau masuk ARC). Untuk Network Configuration saya lupa mengambil gambarnya, tapi seingat saya ipv4 addressnya 192.168.1.2 dan ipv4 gatewaynya 192.168.1.1 (router speedy). Berikut gambar ketika saya memasukkan user baru untuk FreeBSD

Skrinsyut di atas wajib dimuat, bukti otentik nginstall FreeBSD katanya. Setelah instalasi selesai, system reboot. Setelah memuntahkan kata2 yang tidak jelas,di layar muncul jendela login FreeBSD

Setelah login, saya coba2 ngeping router

Berhasil. Alhamdulillah….


Dari buku FreeBSD 6 Unleashed:

  • FreeBSD has only one distribution, whereas Linux has more than 60 distributions. FreeBSD will work the same way on all systems in which it is installed. This is not true with Linux. Each Linux distribution has a slightly different way of doing things. For example, Slackware Linux uses BSD-type run control scripts, which control how various services are launched at startup. Debian Linux uses Sys V run control scripts in a different architecture than the BSD-style scripts; Red Hat Linux uses Sys V run control scripts but stores them in a different location than standard Sys V UNIX does. This can be confusing for users who move from one distribution of Linux to another because things may not work the same way from one distribution to the next. (The same argument can be made with FreeBSD versus NetBSD and OpenBSD, but the differences between these “flavors” of BSD UNIX are arguably more fundamental and significant than between the various distributions of Linux.)
  • FreeBSD is a complete operating system maintained by a core team; Linux is a kernel maintained by Linus Torvalds. Linux is not a complete operating system. It is a kernel. As mentioned in the section on Windows, the kernel is the core of the operating system. It controls the flow of data through the system, managing device drivers and networking, and keeping the system running while you run your applications in the foreground. The various companies that sell Linux distributions take the Linux kernel and package it with a bunch of other programs designed to work with Linux. Because each company has its own idea about what should be included in a distribution, you may find that a program you had available on one Linux system does not exist on another Linux system (although you could download and install it). This fact can also cause dependency problems when upgrading Linux. For example, you may upgrade your Linux kernel, only to find out that you need to upgrade several other packages as well, and in the meantime your system might not even boot. Because FreeBSD is a complete operating system, upgrades are generally easier to do because any dependencies are upgraded at the same time.
  • Development of Linux by its distribution organizations leads to many parallel code bases; contributions to FreeBSD are part of a single development effort. Although anyone can contribute to the FreeBSD project, such contributions can take place anywhere in the operating system. In Linux, kernel code changes must be approved by Linus Torvalds, but contributions elsewhere in the system become part of one distribution or another. Contributions to the FreeBSD source code need to be approved by the core team of committers (programmers who are part of the central FreeBSD development effort) before they will be merged into FreeBSD. This is good for most users because you can be sure that the code has been checked for problems by people who know what they are doing. It also helps to ensure that the code will not cause problems with other code that already exists. This is a common problem with Linux, which is why many Linux distributions seem to come with at least some part “broken” out of the box. Because there is only one base of FreeBSD code (commonly known as a source tree), this is far less of a problem with FreeBSD.

 

 

 

 

 

 


 

Beastie: “Mati kau, Tux.”

Tux : “Laailahaillallah.”

Si Tux masuk surga, si Beastie masuk neraka. Mudah2an aja user FreeBSD ga kayak si Beastie. Amin…


ARC=?

07Mar08

Tadi saya sempat googling kesana-kemari dengan keyword amatir radio. Ternyata saya terdampar di halaman ini dan ini. Wow! ARC rupanya masuk dalam sejarah awal pengembangan internet di Indonesia (baru tahu saya). Luar biasa !!!


FreeBSD ???

07Mar08

Ada beberapa alasan kenapa orang suka menggunakan FreeBSD. Alasan utamanya menurut saya adalah karena FreeBSD gratis.

Berikut adalah alasan-alasan lainnya:

  • Sangat stabil. Server FreeBSD bisa tetap on selama 3 tahun tanpa direboot.
  • Opensource. Kod sumber FreeBSD bebas dilihat oleh siapa saja. Kod itu bisa dikembangkan lebih jauh untuk menyesuaikan dengan kebutuhan.
  • Ribuan software gratis. Banyak freesoftware yang tersedia untuk FreeBSD mulai dari games, word processing, image editing, maupun aplikasi-aplikasi server yang menjadi andalan FreeBSD.
  • Dipakai oleh banyak perusahaan besar. Beberapa perusahaan besar mempercayai FreeBSD untuk menangani tugas-tugas yang berat. Yahoo, Apache, Blue Mountain Arts, Pair Networks, Sony Japan, Netcraft, Weathernewsm, Supervalu, TELEHOUSE America, SOPHOS Antivirus, JMA Wired semuanya memakai FreeBSD.

Tapi alasan yang diberikan ARC cukup aneh. Konon server di ITB hampir FreeBSD semua karena dulunya ITB ngikut orang Jepang yang udah make duluan. Waktu itu ITB baru dapat koneksi dari AI3. Nah, lho?? :roll:


Hello dunia!

07Mar08

Welcome to WordPress.com. This is your first post (woi…siapa yang ngepost. Sadar woi!!!). Edit or delete it and start blogging!